Feature biografi Adithia Syahbana ( Sebelum )


Adithia Syahbana, dari Hobi Menjadi Prestasi


Adithia Syahbana ( penulis )/Foto : dok. Instagram Adithia Syahbana (@as.bana_) https://www.instagram.com/p/B7-b-NRpcTW/?igshid=pq0ujgf4p0ag

SM3T
Keluarlah.
Jangan tunggu terpanggil
Namamu yang tersenyum telah tanggal
Pada puing-puing keterbelakangan bersinar
Ambil segera.
Fajar tentu datang.
Cirebon, 2017

Di kalangan Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, nama sosok Adithia Syahbana bukan lagi nama yang asing, terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia merupakan salah seorang mahasiswa yang mengawali karirnya sebagai penulis muda yang sukses. Banyak buku yang telah diterbitkan di beberapa media, ia adalah sosok mahasiswa yang banyak menginspirasi mahasiswa lain agar terus semangat berkarya dan berprestasi.

Adithia Syahbana dilahirkan 6 Desember di Cirebon, Jawa Barat. Kini ia bertempat tinggal di desa Karang Malang RT/RW  : 02/05, kecamatan Karang Sembung, kabupaten Cirebon,  Jawa Barat. Ia menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Karang Malang tahun 2011. Kemudian melanjutkan jenjang sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Karang Sembung sampai tahun 2014 dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Lemahabang sampai tahun 2017. Ia termotivasi menjadi penyair muda pada awalnya menulis hanya sebagai terapi diri untuk menjadi diri sendiri dari kehidupan yang gaduh, ketika ia mendapatkan ruang pertemanan yang mendukung dan memberanikan diri untuk menulis dengan serius, “ Memotivasinya dari diri saya sendiri untuk saya sendiri tidak untuk orang lain, untuk terapi diri menyehatkan pikiran dan perasaan saya yang sebenarnya tidak bisa disampaikan begitu saya pada orang lain, entah cinta,masalah sosial dan lain-lain”, Ujar Adithia.

Sejak SMA kelas 2 ia senang  menulis puisi , lama - kelamaan menjadi hobi dan ia sering mengunggah di sosial media yaitu  facebook, pada awalnya ia menulis novel  karena merasa tidak sanggup menyelesaikan novel yang tebal. Setelah ia masuk kuliah, ia lebih menulis terarah dan terkonsep ke menulis puisi. Ia ikut komunitas Senja Sastra, Andara Rasa dan Juang Sastra UGJ Cirebon, mulai dari mengikuti komunitas tersebut benar-benar menekuni dunia menulis, sebenarnya bukan hanya menulis puisi saja, banyak menulis cerpen, novel tetapi ia lebih percaya diri dengan puisinya dan terkenalnya sering menulis puisi.
Pada pembuatan buku tentu mempunyai hal yang dianggap penting yang dilakukan oleh setiap penulis berbeda beda karena memiliki jalannya masing-masing. Menurut Adhitia sendiri hal terpenting yang harus dilakukan seorang penulis adalah sebelum menulis setidaknya isi terlebih dahulu pikiran dan perasaan dengan cara membaca membaca,menonton,menyimak atau yang lainnya.Tentukan tema dan gaya penulisan , gaya penulisan ini yang menunjukkan diri si penulis dan akan menjadi ciri khas tulisan si penulis tersebut, dan yang terpenting ketika menulis adalah jadilah diri anda sendiri .
Ketika membuat suatu karya tentu saja tidak mudah pasti ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi seorang penulis dalam mengembangkan karyanya, begitu pun kesulitan yang dihadapi Adithia ada dua, yang pertama belajar sesuatu yang baru atau tema baru, ketika buku lingkar kompleksitas buku kedua yang diterbitkan sebelumnya diskusi dengan salah satu penyair dari lima penyair besar di Indonesia yaitu kang Asep Zamzam Noor dan diberi pencerahan bahwa dunia kepenyairan dunia belajar yang tiada henti. Jadi Kesulitannya  adalah belajar, dalam arti saat menemukan tulisan baru ataupun memilih sesuatu  yang baru itu . kesulitan kedua mencari sosok wanita dalam bukunya ada sosok wanita masa lalunya, pada buku lingkar kompleksitas ada satu wanita yang sangat berarti bagi hidupnya, dia merupakan wanita yang dianggap spesial untuk karyanya dan berisi percakapan Adithia sampaikan untuk wanita itu, selalu membayangkan bagaimana puisi ini dan curhatan ataupun keresahan ia untuk wanita itu.

Untuk hambatan teknis sendiri menurutnya relatif karena pasti semua penulis mempunyai dapur penulisannya masing-masing. Dilihat dari prosesnya tentu saja seorang penulis harus membangkitkan semangat untuk menulis dan membaca puisi, menurut Adhitia, tergantung dan berbeda-beda, karena selama ini kesulitan untuk mendapatkan waktu dan mendapatkan ruang untuk menjadi diri sendiri. Jadi ini adalah salah satu hal yang sangat penting membangkitkan semangat dan lebih menikmati diri sendiri.

Adithia Syahbana, bermukim di Cirebon, Jawa Barat. Bergiat di komunitas Senja Sastra Cirebon , Andara Rasa dan Juang Sastra UGJ Cirebon. Tulisan-tulisannya telah banyak tersiar di berbagai koran dan media daring, seperti Takanta.id, Nusantara News, Kawaca.com, Penakota.id, majalah Simalaba, Riau Pos, Palembang Ekspress, Radar Cirebon, Kabar Cirebon, dan lainnya. Lalu pada tahun 2019 tulisan-tulisannya termuat dalam buku antologi puisi terbaik (nasional) Matinya Si Pemuda (OASE Pustaka, 2019). Kemudian tulisan-tulisannya juga terpilih dan diabadikan di Kantung Budaya @Leitstar_id serta dipamerkan dalam festival SHFT Jakarta tahun 2019, serta telah dialihwahanakan dalam bentuk drama berjudul Berpulang oleh HMJ Diksatrasia dan dalam bentuk lagu (Berpulang, Bahagia itu Luka, dan Malam Lengang Malam Pertanyaan) oleh Ade Arthur.  Buku-buku yang telah ia terbitkan antara lain :
Terima Kasih Wanitaku (Ellunar Publisher, 2017)
Lingkar Kompleksitas (Orbit Indonesia, 2019)
Bentang Sayap Hari Putih (Asbanabook, 2019)

Foto : dok. Instagram Adithia Syahbana (@as.bana_) https://www.instagram.com/p/Beob0CIDH8b/?igshid=h2c4bk5g4gxg
Berikut Merupakan alamat web yang memuat karya-karya Adithia Syahbana :
http://www.takanta.id/2018/08/lugina-dan-sajak.html
https://www.wattpad.com/user/AdithiaSy
https://mobile.twitter.com/asyhbana
https://penakota.id/penulis/AdithiaSyahbana/4849/aku-tuhan-kamu
https://penakota.id/penulis/AdithiaSyahbana


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan kegiatan bulan bahasa